Kamis, 12 April 2012

menjadi muslim secara kaffah

menjadi muslim secara kaffah
Menjadi Muslim scara kaffah menuju Sikap Humanis-Religius
Term muslim biasanya dimaknai secara umum oleh masyarakat sebagai orang Islam. Pemaknaan tersebut diambil dari kata Islam sebagai “kata benda” (Masdar), sedangkan muslim adalah pelaku (Isim Fa’il). Prof. Dr. Yudian Wahyudi menyatakan bahwa secara etimologis, Islam berasal dari kata aslama-yuslimu-islam-salam atau salamah, yaitu tunduk kepada kehendak Allah swt. agar mencapai salam/salamah (keselamatan atau kedamaian) di dunia dan akhirat. Prosesnya disebut Islam dan pelakunya disebut muslim. Jadi, Islam adalah proses bukan tujuan, yakni proses mencari keselamatan di dunia dan akhirat.
            Muslim holistik atau muslim kaffi merupakan sebuah proses ketundukkan seseorang terhadap perintah Allah, sehingga dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan untuk memasuki agama Islam secara kaffah/sempurna. (al-Baqarah [2]: 208)
            Konsep muslim holistik merupakan perpaduan antara ketundukan manusia kepada 3 ayat Allah, yakni: ayat Qur’aniyah, Kauniyah, dan Insaniyah. Ketiga ayat tersebut merupakan kehendak Allah yang harus ditaati untuk menghantarkan manusia kepada keselamatan dan kedamaian dunia sampai akhirat.
Pertama, ayat Qur’anyiah atau Ayat Qauliyah, yang terangkum dalam al-Qur’an dan al-Hadis/as-Sunnah. Dalam kepatuhan pada ayat Qur’aniyah, hukum yang terpenting adalah tauhid (keesaan Allah), Akhlak (moralitas), dan keadilan (hukum kepasangan positif dan negatif atau maslahat dan mafsadat). Fungsi terbesar akidah “Tiada Tuhan selain Allah” adalah sebagai kunci ketika menyeberangi dunia menuju akhirat, sedangkan syirik sebagai satu-satunya dosa yang tidak dapat diampuni Allah, kecuali dengan taubat nasuha (benar-benar taubat). Orang yang tunduk kepada ayat Qur’aniyah disebut muslim teologis.
Kedua, ayat Kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di Jagat raya (kosmos). Tanda kebesaran Allah yang terpenting di sini adalah hukum kepasangan yang dititipkan Allah pada setiap benda alamiah. Sunnatullah atau takdir Allah (hukum alam) ini memegang peran kunci dalam menentukan keselamatan atau kedamaian di dunia. Islami pada tingkat alam adalah menyeimbangkan potensi negatif dan potensi positif setiap benda. Islami di sini ditarik sampai pada titik memaksimalkan potensi positif dan meminimalkan potensi negatif suatu benda. Hukum alam ini berlaku bagi siapa saja tanpa mengenal batas-batas kemanusiaan apapun seperti ras, agama, dan status sosial. Pada tingkat alam inilah semua agama sama, karena siapa pun yang melanggar hukum kepasangan ini pasti dihukum Allah seketika. Sebaliknya, siapapun yang taat (tunduk pada hukum kepasangan ini), pasti diberi pahala oleh Allah, yaitu keselamatan (di dunia). Misalnya, jika ada seorang Islam, Yahudi, Kristen, Budha, atau Hindu, menyeberangi Laut Selatan dengan berenang (tanpa alat renang), pasti dia akan dihukum oleh Allah. Dia akan tenggelam dan mati. Sebaliknya, jika ada orang komunis (Ateis) menyeberangi Laut Selatan dengan kapal, maka dia akan selamat sampai tujuan. Karena pada hakikatnya, si komunis adalah muslim alamiah, sebab dia beriman kepada hukum kepasangan sebagai hukum terbesar yang “mengatur” kehidupan kosmos, sehingga dia mencapai keamanan (seakar dengan iman). Seperti halnya Islam, Iman adalah proses yang tujuannya adalah aman atau safety, dalam bahasa Indonesia menjadi keamanan. Keselamatan dan kedamaian atau keamanan di sini hanya pada tingkat kosmos atau duniawi. Untuk menyeberangi akhirat dibutuhkan kunci: Tauhid.
            Ketiga, ayat Insaniyah, tanda-tanda kebesaran atau hukum-hukum Allah yang mengatur kehidupan manusia (kosmis). Hukum yang terpenting di sini ialah hukum kepasangan. Islam dan Iman (sehingga selamat dan aman) pada tingkat ini adalah menyeimbangkan potensi positif dan negatif, yaitu menciptakan keseimbangan atau keadilan sosial. Allah sudah mendelegasikan hukum keseimbangan ini kepada mausia seperti tercermin dalam hadis “kerelaan Allah tergantung pada kerelaan manusia (orang tua).” Hukum ini diperkuat dengan prinsip mutual agreement (عَنْ تَرَاضٍ). Kesalahan sosial harus terlebih dahulu diselesaikan antara pihak-pihak terkait. Jika terkait belum memaafkan, Allah juga belum mengampuni. Orang yang mentaati hukum insaniyah disebut muslim insaniyah.

Menjadi Muslim Holistik menuju Sikap Humanis-Religius
Jadi, Islam adalah Tauhid, yaitu mengintegrasikan kehendak Allah yang ada di dalam kitab suci (ayat Qur’aniyah/Qauliyah), alam (ayat Kauniyah), dan manusia (ayat Insaniyah), sehingga terbebas dari bencana teologis, kosmos, dan kosmis. Inilah yang disebut takwa yang puncaknya sering disebut ihsan, yaitu proses kesadaran menghadirkan Tuhan di mana pun (pada tingkat teologis, kosmos, dan kosmis) dan kapanpun. Inilah yang disebut Islam Kaffah (Holistik) atau menjadi Insan Kamil.
Kehidupan seorang muslim holistik akan selalu menyeimbangkan antara hubungan vertical dengan Allah dan hubungan horizontal dengan manusia maupun alam. Secara teologis, dia taat kepada perintah Allah, dan secara social, dia bersikap humanis, ramah, dan menghormati orang lain dan menjaga alam sebaik-baiknya. Dari sinilah, muncul sikap humanis-religius. Humanis-Religius adalah sikap yang mengedepankan sisi-sisi kemanusian dan nilai-nilai religi (agama). Integrasi antara keduanya merupakan perwujudan dari seorang muslim holistik.
            Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa fungsi diciptakan manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi. Seorang khalifah memegang amanah Allah untuk memelihara alam, penebar rahmat, dan pencipta keadilan bagi semua makhluk. Muslim holistik dengan semangat humanis-religius merupakan perwujudan yang sempurna seorang khalifah, sebab, dia dapat mengintegrasikan antara kehendak Allah dalam kitab suci, alam, dan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar